Sepenggal tentang rekrekan_part 2

Posted on Updated on

The landuse in the nearest village_Southeastern slope of Mt. Merbabu
Dimulai bulan Februari 2013, aku dengan beberapa teman mulai mengunjungi hutan-hutan di Lereng Merbabu. Tidak lain, tujuan utama kami adalah untuk menjumpai sahabat kami, Presbytis fredericae. Survey memang terkendala cuaca yang kala itu musim penghujan, serta medan yang cukup berat.

Oya, terdapat 3 jenis primata di Gunung Merbabu. Yang pertama dan yang paling mudah dijumpai adalah Macaca fasicularis. Primata yang kerap dikenal sebagai hama ini bisa kita jumpai hampir di semua lereng, bahkan di beberapa tempat sering masuk ke perkampungan. Mereka biasa beraktivitas dalam kelompok yang cukup besar dan bersuara ribut. Yang berikutnya adalah Trachypithecus auratus serta Presbytis fredericae. Warga lereng Merbabu mengenali kedua jenis primata terakhir sebagai “lutung”. Mereka membedakan keduanya dari perbedaan suara serta warna tubuh. T.auratus dikenal dengan tubuh yang seluruhnya berwarna hitam dengan suara keras berbunyi “kok” atau “kek kok”. Sementara itu, P.fredericae disebut dengan lutung juga namun dengan wajah dan dada yang putih, dengan suara “rekrekrek”. Beberapa warga menyebut P.fredericae dengan “lutung dada putih”.

Presbytis fredericae / rekrekan di Gunung Merbabu
Presbytis fredericae / rekrekan di Gunung Merbabu

Susah-susah gampang memang untuk menjumpai satwa ini. Rekan-rekan pecinta alam yang kerap menjelajah alam Merbabu mungkin pernah berjumpa dengan monyet daun ini. Hanya saja, satwa ini memang mudah terusik sehingga akan cenderung menghindar dari keramaian. Dari survey yang saya dan teman-teman lakukan, tingkat pertemuan dengan P.fredericae cukup rendah. Di lereng tenggara hanya terjadi 5 kali perjumpaan langsung, sementara di lereng barat laut keberadaan P.fredericae hanya teridentifikasi dari suara.

Dari lima kali perjumpaan langsung tersebut, empat titik diantaranya terdapat di tipe hutan alam, sementara satu titik berada pada tipe hutan tanaman yang berbatasan dengan hutan alam.

Hutan alam di lereng tenggara, ditumbuhi oleh berbagai jenis spesies lokal. Beberapa jenis tumbuhan yang paling sering dijumpai adalah kesowo (Engelhardia spicata), pangpung (Macropanax dispermus), pasang (Lithocarpus sp.) serta sengiran (Pittosporum moluccanum). Pada kawasan yang memiliki elevasi lebih tinggi, tipe natural mixed-forest ini digantikan oleh hutan Albizia lopantha atau kemlandingan gunung. Satu kelompok pernah teramati pada saat asik makan di jenis pohon tersebut. Pada saat didekati, nampak pucuk-pucuk ranting yang patah. Catatan perjumpaan oleh penduduk di lereng barat laut juga terjadi pada hutan kemlandhingan gunung.

Hutan alamHasil penelitian Fithria (2011) di Gunung Slamet menyebutkan bahwa P. fredericae memanfaatkan pucuk daun muda tumbuhan pasang serta daun muda dan bunga tumbuhan kesowo sebagai sumberdaya makanannya. Hal ini menguatkan keberadaan P.fredericae di tipe hutan alam yang mampu menyediakan sumber makanan tersebut.

Keberadaan P. fredericae di Gunung Merbabu ini tak lepas dari berbagai ancaman. Ancaman utama adalah degradasi habitat yang diantaranya disebabkan oleh kebakaran hutan serta perambahan. Selain itu, disepanjang jalur pendakian, terutama pada pos-pos pendakian (di setiap jalur) akan dengan mudahnya kita menjumpai sampah-sampah berserakan. Ya, sampah para pendaki. Mulai dari yang kecil, bungkus permen hingga botol air mineral bahkan jas hujan.

“jejak” pendaki

Ironis bukan?

Advertisements

Sepenggal tentang rekrekan

Posted on Updated on

Presbytis fredericae

Javan grizzled langur is one of the endemic primates in Java Island, the most cultivated large island in Indonesia. Habitat fragmentation and hunting threaten the existence of this primate (Nijman and van Balen, 1998; Nijman & Richardson, 2008). Instead of arguing whether they are a separated species (Brandon-Jones, 2004) or a subspecies of P. Comata in West Java (Nijman, 1997), attempting to do the conservation is more important, remembering that the population continues diminishing. Ecological information has become very important to overcome the existing threat of habitat destruction in Java (Nijman & van Balen, 1998; Setiawan, et. Al., 2007; Nijman & Richardson, 2008).

In the IUCN Red List species, P. fredericae (Synonim for P. comata), belongs to the endangered C2a(i) category & criteria (IUCN, 2012). This population trend continues to decline, especially adult individuals. This primate also protected by Indonesian Law by PP. 7 of 1999 concerning the preservation of plants and animals, and in the regulation of plant and wildlife trade, CITES, it is listed on Appendix II.

Selanjutnya, apa yang bisa kita lakukan dan kenapa perlu kita lakukan?

Adalah penggalan dari selembar tulisan yang bagiku butuh waktu dan energi super. Alhamdulillah Gusti Allah memberikan jalan dan petunjuk. Semoga menjadi langkah awal untuk sesuatu hal yang meskipun kecil bisa memberikan manfaat seoptimal mungkin.

Senantiasa mengharap petunjuk dan ridho-Mu, sembah sujud syukur kagem Gusti Allah.

 

 

Cerita dari Siberut: sebagian kecil dari burung-burung di Siberut Utara

Posted on Updated on

 

Bondol
Elang bondol

Teteuta…sikerei……Muturuk uliat manyang….

Muturuk uliat bilou…..

 

Adalah sepenggal lirik lagu dalam bahasa Mentawai, yang menggambarkan kedekatan masyarakat Mentawai pada sesama makhluk Tuhan, dalam hal ini terutama pada satwa. Dalam lagu tersebut digambarkan bahwa sang kakek yang merupakan sikerei tengah menari. Menari menirukan tarian elang (muturuk uliat manyang), dan menari tarian bilou/ owa  Hylobates klossii.

Coretan ini akan menceritakan sedikit dari biodiversitas Siberut Utara . Kali ini adalah burung. Namun perlu diingat bahwa ini hanyalah sebagian kecil yang tertangkap indera..karena konon 170 hariku di Siberut  tidaklah fokus mengamati ragam makhluk indah ini, ditambah lagi kemampuan yang terbatas. Apapun itu, berikut ini kucoba untuk memperkenalkan sahabat-sahabat cantik dari Siberut Utara yang kujumpai beserta lokasinya :

  • Cangak laut _ Ardea sumatrana _ Muara Sigep
  • Bangau storm _ Ciconia stormi _ Pungut; Sungai Pungut. Tidak terlalu sering kulihat bangau besar ini. Sekali waktu aku melihatnya tengah bertengger di pucuk pohon tinggi di tepi sungai pungut, di ladang seorang warga.
  • Elang bondol _ Haliastur indus _ Paleleukleuk; Pokai.
  • Elang-ular bido _ Spilornis cheela _ Pungut.
  • Elang-laut perut-putih _ Haliaeetus leucogaster _ Pokai.
  • Kareo padi _ Amaurornis phoenicurus _ Pokai. Ada jenis buah menyerupai duku yang oleh warga setempat disebut dengan taiturgoukgouk. Entah apa yang menyebabkannya, ternyata turgoukgouk diambil dari nama lokal kareo padi. Apakah itu artinya tai kareo? yang pasti buah itu cukup menyegarkan, dan aku menyukainya…hmmmmm.
  • Nuri tanau _ Psittinus cyanurus _ Pungut.
  • Kadalan birah _ Phaenicophaeus curvirostris _ Pungut
  • Punggok cokelat _ Ninox scutulata _ Politcoman. Burung ini kulihat telah berada dalam orek atau keranjang di dapur Pak Hamzah. Jenis burung hantu sering disebut dengan seseibe. Saat kulihat, burung ini dalam kondisi yang lemah..bahkan sangat lemah. Ia ditangkap di ladang beberapa hari sebelumnya. Minggu setelahnya ketika aku berkunjung kembali ke rumah Pak Hamzah ternyata seseibe itu telah mati beberapa hari lalu 😦
  • Tepekong rangkang _ Hemiprocne comata _ Pungut. Hampir setiap hari dia bertengger di lekukan ranting yang sama di pohon samping uma, tepi sungai kecil.
  • Raja-udang meninting _ Alcedo meninting _ Pungut. Sering terlihat dan terdengar di sungai samping uma. Bertengger di ranting pohong tepi sungai kemudian terbang dengan cepat menyambar permukaan air.
  • Pekaka emas _ Pelargopsis capensis _ Politcoman; Pokai.
  • Udang punggung-merah _ Ceyz rufidorsa _ Pungut
  • Kangkareng perut-putih _ Anthracoceros albirostris _ Pungut. Jenis rangkong ini sangat banyak dijumpai di Pungut. Kepakan sayapnya menimbulkan suara yang khas, demikian juga suaranya yang ramai. Suatu ketika sewaktu guide saya tinggal di rumah ladang, dia menangkap satu ekor kemudian menjadikannya lauk. Sebagai persembahan untuk sang putri, guide saya membawakan paruh beserta tanduknya untuk saya, namun karena terlalu “miris” ketika melihatnya akhirnya saya tinggal di kamar joja.
  • Madi-hijau kecil _ Calyptomena viridis _ Pungut. Burung ini menjadi spesial bagi saya mengingat saya beserta guide pernah diserang sang jantan, untuk alasan yang tidak jelas. Padahal sungguh mati saya menyukai burung ini karena dalam hari-hari saya menjelajah hutan burung ini selalu menyumbangkan suaranya. Dan ketika melihat warna bulunya yang berwarna hijau terang, saya pun jatuh cinta dengan keindahannya. Namun ternyata…alih-alih menerima cintaku justru sambaran2 tajam di atas kepalaku lah yang kuterima 😦
  • Kepudang-sungu Sumatera _ Coracina striata _ Pungut. Dalam bahasa lokal disebut dengan gayak-gayak. Burung ini memiliki suara yang menurutku cukup berisik, karena dia kujumpai saat berkumpul dalam satu kelompok kecil.
  • Layang-layang batu _ Hirundo tahitica _ Pokai
  • Cucak sakit-tubuh _ Pycnonotus melanoleucos _ Pungut. Ini adalah burung penghuni hutan Pungut yang terakhir kali ku potret. Hari itu adalah hari terakhirku masuk ke hutan berdua dengan guideku. Yang pertama kali menarik perhatianku saat kulihat burung ini adalah materi yang ada di paruhnya. Walnya aku pikir itu adalah lumut atau materi sarang. Namun setelah kuperhatikan lagi, sepertinya itu adalah mangsanya siang hari itu. Sepintas kusimpulkan bahwa “materi” itu adalah laba-laba.
  • Cucak kuricang _ Pycnonotus  atriceps _ Pungut. Sangat ramai diHutan Pungut. Sering kulihat berpasangan, atau dalam kelompok-kelompok.
  • Merbah belukar _ Pycnonotus  plumosus _ Pungut
  • Srigunting kelabu _ Dicrurus leucophaeus _ Pungut
  • Srigunting jambul-rambut _ Dicrurus hottentottus _ Pungut. Srigunting ini juga istimewa bagiku karena sering kali terlihat mengikuti monyet-monyetku, menyambar serangga yang berterbangan seiring dengan hentakan yang ditimbulkan oleh pergerakan monyet.
  • Kepudang hutan _ Oriolus xanthonotus _ Pungut
  • Kepudang kuduk-hitam _ Oriolus chinensis _ Pungut
  • Kacembang gadung _ Irena puella _ Pungut. Jantan dari jenis ini sangat menarik dengan warna biru menyala. Sementara itu sanga betina didominasi warna hijau. Dalam bahasa setempat burung ini disebut dengan taipotpot.
  • Kucica hutan _ Copsychus malabaricus _ Pungut. Sering dijumpai di sekitar camp. Sekali waktu pernah menemukan perangkap yang dibangun pemburu di dalam hutan. Konon perangkap tersebut ditujukan untuk menangkap kucica hutan atau yang dikenal dengan murai batu, karena memang harga jualnya yang cukup menarik.
  • Sikatan kepala-abu _ Culicicapa ceylonensis _ Pungut
  • Kehicap ranting _ Hypothymis azurea _ Pungut. Burung yang dalam bahasa setempat disebut sirurue ini kuangkat menjadi siripokku. I love this bird so much. Kecil, lincah dan nampak sangat ceria dengan suaranya meramaikan hutan Pungut.
  • Kicuit batu _ Motacilla cinerea _ Politcoman; Pokai
  • Kicuit hutan _ Dendronanthus indicus _ Pungut
  • Tiong emas _ Gracula religiosa _ Pungut
  • Burung-madu kelapa _ Anthreptes malacensis _ Pungut
  • Pijantung besar _ Arachnothera robusta _ Pungut
  • Cabai bunga-api _ Dicaeum trigonostigma _ Pungut
  • Unidentified burung hantu _ Pungut. Terlihat 3 individu, dengan 2 individu berwarna dominan cokelat gelap dan 1 individu cokelat terang. namun sayang tidak terdokumentasikan dan terlihat tidak lama.
  • Paruh-kodok _ Batraschostomus sp. _ Pungut
  • Punai  _ Treron sp _ Pungut. Jenis burung ini yang merupakan sasaran utama penduduk yang sedang bekerja dan menginap di ladang untuk dijadikan lauk selamat menginap di rumah ladang. Salah satu diantaranya adalah Punai Lengguak
  • Uncal _ Macropygia sp._PungutBurung ini juga kulihat berada di kurungan salah satu warga Politcoman.  Ia memiliki suara yang menurutku cukup menyeramkan.  Sesuai dengan suaranya, warga setempat menyebutnya tutuou. Aku memang tidak terlalu yakin, tapi ia mirip dengan Uncal buau.

Ini hanyalah sebagian kecil karena berbagai keterbatasan. Monggo silahkan kalau ada koreksi dari rekan-rekan sekalian. Namun yang pasti, tanah Siberut akan selalu menarik untuk di eksplor… So, sebelum berwisata ke negara tetangga, sempatkanlah untuk mengunjungi Pulau ini…berbagai pengalaman menarik akan menjadi oleh-oleh istimewa yang tidak hanya menawarkan “kesenangan” namun juga pembelajaran..

 

Cerita dari Siberut: Pantai Paleleukleuk

Posted on Updated on

Meskipun bukan sebuah obyek wisata yang terkenal, dengan segenap hati kukatakan bahwa pantai ini terlalu indah untuk dilewatkan ketika kita mengunjungi Siberut Utara. Pantai berpasir putih ini nampak sangat cantik berpadu dengan langit biru serta tumbuhan pantai yang menghijau. Paleleukleuk, demikian nama pantai cantik itu. Menuju Paleleukleuk dapat ditempuh dengan berjalan kaki agak cepat (ala pemuda Mentawai) selama satu jam dari Muara Sigep, Siberut Utara. Cemara laut, pandan, ketapang serta berbagai jenis tumbuhan menyusun sebuah formasi vegetasi pantai yang pantas dikaji.


Sewaktu aku berjalan menuju pantai ini, nampak olehku jejak penyu yang nampak jelas di hamparan pasir yang halus. Kemungkinan semalam seekor penyu betina telah bertelur di pantai ini. Sebuah tugas mulia, sama halnya dengan makhluk hidup lain, tak terkecuali manusia, yakni melanjutkan kelangsungan hidup keturunannya. Dari sekitar 80-90 butir telur entah berapa yang mampu survive dan melanjutkan hidup. Satu tukik berhasil menetas dan melanjutkan siklus hidup adalah suatu prestasi dari sebuah perjuangan dan atau keberuntungan.


Jika beruntung, 80 tukik dapat menetas dan perlahan menuju lautan bebas entah menuju ke pulau mana sebelum akhirnya kembali lagi. Namun disini seleksi alam berjalan. Ketika indukan menghasilkan keturunan yang jumlahnya berlebih, maka disinilah seleksi berjalan. Mereka yang mampu memanfaatkan sumberdaya yang akan survive. Selain itu masih ada komponen lain yang bekerja. Predator. Ancaman dari predator yang dengan mudah mengendus tempat sang induk penyu meletakkan telur, yakni biawak dan babi. Oya, ada satu lagi ancaman bagi telur-telur tersebut. Manusia. Yap, manusia dengan segala akal pikirannya dapat dengan mudah melihat jejak, mencari tempat bertelur dan dengan senyum puas mengambil semua telur tersebut. Dan hari itu aku sudah melihat betapa manusia telah menghilangkan kesempatan tukik-tukik untuk menghirup udara Mentawai.
Dibeberapa tempat nampak alur-alur sungai kecil yang membawa air dingin yang mampu memberikan kesegaran pada kaki kita di tengah terik matahari. Air sungai tersebut berwarna kemerahan, entah materi apa yang dia bawa. Seekor elang bondol tiba-tiba muncul, soaring dengan ketinggian yang tidak terlalu tinggi. Nampaknya ia sedang mencari makan siang dan sesaat kemudian ia pun melesat terbang, menjauh dari pandangan.

Tiba di Paleleukleuk, nampak sisa-sisa resort SCP yang dulu sering digunakan tamu-tamu asing untuk menginap. Terdiri dari dua bangunan utama yang dihubungkan dengan jembatan kayu untuk melintasi rawa dengan rumput yang tingginya 1,5 kali tinggiku. Beberapa bagian seperti pintu telah hilang berpindah ke rumah warga. Tapi lumayanlah waktu itu kami bisa berteduh dan tiduran sejenak di lantai resort sambil menikmati kelapa muda yang bisa diperoleh di sekitar resort.
Di belakang resort, agak masuk ke dalam hutan ada sebuah gerbang bolokbok atau kantong semar. Menyerupai gerbang karena memang dia merambat dan berjuntai di pepohonan. Melewati gerbang bolokbok, maka kita akan disambut dengan karpet bolokbok. Banyak sekali bolokbok di lantai hutan. Kali ini kantungnya terlihat cenderung membulat. Air terlihat menggenang di dalam kantong. Di tempat tertentu, kantong-kantong ini terdapat pada lantai hutan yang tidak tergenang, dengan cukup rapat sehingga menyerupai karpet kantong. Informasi dari Roki, keberadaan tumbuhan ini merupakan indicator lingkungan yang kekurangan nitrogen.

Ada satu hal lagi yang jangan sampai terlewatkan ketika mengunjungi pantai ini. Mandi. Pantai ini cukup landai dan ombaknya juga tenang. Warga meyakini bahwa tempat itu aman untuk bermain-main di air menjemput ombak yang datang. Tentusaja harus tetap hati-hati terutama bagi yang tidak bisa berenang.

what a beautiful beach, you have to go there.

Cerita dari Siberut: Sore hari di Muara Sigep

Posted on Updated on

15 Februari 2012 ; 20.56 WIB

Mendadak terdengar intro lagu lawas, Hotel California, dari hp ku.  Lagu ini memang sengaja ku set sebagai nada panggilan. Siapakah gerangan yang menelponku malam ini? Perlahan kuperhatikan nama yang muncul. Woowwww adalah Risel, silainge Mentawai, pemuda Mentawai yang juga temanku sewaktu aku di mentawai tahun lalu. Dia sedang di Labuan Bajau, kampung terdekat yang ada sinyal. Tidak lama dia menelponku, karena secara ajaib percakapan kami terputus. Tentu saja ini disebabkan sinyal yang datang dan pergi begitu saja tanpa pemberitahuan sebelumnya. Apapun kondisinya, thanks to Telk*msel yang sudah mau menjadi satu-satunya operator seluler di tanah itu.

Otakku kembali membuka memori sewaktu aku menjalani hari di pulau terbesar Kepulauan Mentawai, Siberut. Sampai hari ini (16 Februari 2012) akhirnya aku membuka lagi foto-fotoku di Pulau itu, dan memutuskan untuk menulis lagi satu edisi jalan-jalanku di Muara Sigep, Siberut Utara.

Hari itu Sabtu 9 Juli 2011, aku dan salah satu rekan asisten (Betty) sepakat menghabiskan weekend kami di Politcoman. Kami berdua sudah bersepakat dengan guideku, Piator, untuk mandi-mandi di muara. Maka sore itu, sekitar jam 3, datanglah Piator dan sohibnya, Risel, menghampiri aku dan Betty di Betaet (kantor SCP di Politcoman).

Dengan pompong SCP kami berempat menuju ke muara. Tidak sampai 15 menit kemudian kami sampai. Setelah pompong parkir, kami bergerak ke arah barat, menyusuri pantai. Tiba di garis pantai yang melengkung kedalam kami berhenti. Kami letakkan bekal kami. Dan segera Betty, Risel dan Piator berlari ke laut. Aku?? aku cukup melihat mereka. kambing cui..takut air. Kuulangi lagi, aku tidak bisa berenang.  Mendingan aku berjemur melihat mereka bermain-main. Iri.. Akhirnya Betty dan Piator menyambangiku. Mereka merayuku. Dan akhirnya karena terbujuk rayuan mawut mereka, aku sepakat untuk bergabung, dengan syarat ada yang memastikan keselamatanku.  Kambing pun masuk ke air. Menghadang ombak yang datang… Tiap kali ombak mendekat Piator memberikan aba-aba, 1..2..blebekbbblllekk, kami berpegangan memasukkan diri dalam gulungan ombak… “dung-dung-dung”..airpun masuk ke telingaku.

Bermain di air membuat perut kami lapar. Untunglah kami membawa bekal. Biskuit sisa jatah mingguan di camp. Lumayan, menunda rasa lapar. matahari mulai tergelincir di ufuk barat. Cahaya menjadi keemasan. Demikian juga warna air laut memantulkan  cahaya emas  matahari sore. langit sore itu demikian indah. Sebagai pecinta langit, sampai saat ini aku masih bersikukuh belum ada yang mengalahkan keindahan langit Mentawai (karena baru tempat itu yang kukunjungi, selain daerah asal). Kami berempat duduk, menikmati langit sore…tersenyum menatap indahnya langit dan merasakan indahnya kebersamaan kami.

Berkhayal dan berharap kelak aku masih diberi kesempatan untuk menikmati rasa itu.. Indahnya langit sore..

Langit sore selalu memberikan damai…

Thanks to Sang Hyang Murbeng Dumadi atas kesempatan yang Kau berikan kepadaku untuk mengenal secuil keindahan mahakaryaMu

Cerita dari Siberut: Antara aku dan Joja-jojaku (Presbytis potenziani)

Posted on Updated on

Kurang lebih jam lima pagi (jika cuaca cerah), antara ada dan tiada, sadar dan kantuk, kudengar  loudcall salah satu non-humane primate di tanah Siberut ini. Kondisi kamar yang gelap, membuatku kesulitan menentukan darimana arah suara tersebut. Bago-bago, demikian warga Mentawai menyebutnya untuk loudcall joja (Presbytis potenziani). Kucek-kucek mata, siap-siap, menuju kamar mandi, cuci muka, gosok gigi dan wudhu. Setelah sholat subuh, segera prepare untuk kehutan seharian ini. GPS, timer, jam tangan, notebook, alat tulis, obat pribadi serta perlengkapan pribadi lain. Setelah merasa cukup wangi (gak mau kalah dengan guide yang biasanya lebih wangi), aku meluncur ke uma untuk mengambil jatah makan dan sarapan secukupnya. Melemparkan seulas senyum termanis dan sapaan paling ceria yang bisa kulakukan  pada rekan-rekan asisten dan guide di uma, adalah ritual wajibku ketika memasuki uma agar hari ini menyenangkan. Oya, sepatu bootku yang sudah mulai bocor tak lupa kupakai. Kurang lebih pukul 05.45 (jika cuaca cerah) akan terdengar satu kali lagi bago-bago yang akan menjadi  petunjuk bagiku dan guideku menuju ke hutan. Kurang lebih pukul 06.00 aku dan guideku, yang lebih sering kupanggil ‘’andan”, masuk ke hutan dengan pencahayaan senter dan headlamp.

Pukul enam lebih sedikit, akhirnya ketemu juga kelompok Joni. Di pagi yang masih cukup gelap dan agak berkabut, ternyata kelompok ini sudah mulai bergerak meninggalkan pohon tidur. Menurut penuturan andanku, biasanya setelah bago-bago tiga kali joja akan berpindah meninggalkan pohon tidurnya. Hari itu kami menemui mereka sudah berada di pohon sibulukbababet transek 2/200, salah satu pohon buah favorit mereka. Scan pertama dimulai pukul 06.45, mencatat lokasi ditemukan, individu yang teramati dalam kurun waktu lima menit, serta aktivitas yang mereka lakukan. Misi utamaku pagi itu adalah mencari tahu siapa sebenarnya ibunda javan. Oya, pertama aku perkenalkan dulu dengan keluarga Joni. Joni memiliki dua isteri yakni Jini dan jesi. Jini melahirkan tiga anak yaitu Jimbo (adult male), Juli (sub adult female), dan Juan (juvenile). Jefra memiliki tiga anak juga yakni jefra (sub adult female), jojo (juvenile), dan javan (infant). Jimbo saat ini sudah berpisah dari kelompok joni dan mendirikan kelompoknya sendiri.

Pagi dimulai dengan aksi kejar-kejaran antara juan dan jojo, tidak hanya mereka berdua, terkadang kedua kakaknya Juli dan Jefra. Namun pagi itu baru Juan, Jojo dan Juli yang bergabung olahraga pagi. Suaranya ribut, kadang diikuti dengan menggerutu (demikian kadang kuterjemahkan dalam bahasa manusia: marah dan jengkel pada teman sepermainan) ketika temannya mulai menarik-narik ekor, atau mencengkeram terlalu kuat pada tubuhnya. Pagi itu kami sengaja menunggu dan mencari tahu, siapa yang akan menggendong Javan untuk memulai hari. Mengapa siapa? Karena memang terjadi perbedaan pendapat antara aku dan guideku tentang siapa sebenarnya ibu Javan. Di hari pertama Javan ditemukan, dia tengah digendong jesi, sehingga kami menebak bahwa itu adalah anak Jesi. Namun andanku berubah pikiran ketika pada waktu-waktu berikutnya Jefra lah yang lebih sering  menggendong Javan. Demikian juga dengan pagi ini. Jesi dengan gaya khasnya melompat dari satu pohon ke pohon lain tanpa Javan. Agak jauh dibelakang, dengan langkah hati-hati setelah dihampiri Jini, Jefra mulai bergerak dengan menggendong javan. Belum ada satu penjelasan yang cukup meyakinkan bagiku untuk mempercayai bahwa itu adalah anak Jefra. Karena (menurut teori nih), terdapat mekanisme inbreeding avoidance juga pada kelompok satwa ini,  jadi sangat kecil kemungkinan Joni mengawini anaknya sendiri, Jefra. Seandainya bukan Joni yang mengawini jefra, lepak siapa yang menghamilinya? Penjantan dari kelompok lain? pasti sudah dihajar oleh Joni kalo sampai ada pejantan yang menghamili anak gadisnya, di dalam homerange. Atau si Jimbo? Ah gak tahu, tapi aku yakin bahwa itu adalah anak Jesi.

Javan : infant
Javan (infant)

Jesi homo seksual??!!!!

Jadi teringat kejadian yang menurutku aneh beberapa bulan lalu. Waktu itu, Joni terus mendekati Jesi, namun jesi terus menghindar. Namun apadaya, akhirnya berhasil juga Joni menggapai Jesi, dan akhirnya terjadilah perkawinan dengan bentuk yang aneh. Tubuh Jesi yang cukup ‘gendut’ membuat Joni yang menungganginya nampak kecil, jadi Jesi terlihat seperti menggendong anak kecil di punggungya. Jesi terus meronta sambail berteriak marah, dengan terus berputar sehingga akhirnya Joni menyerah (atau perkawinan sudah terjadi sukses, pengamat tidak tahu). Itu kejadian unik pertama. Kejadian unik berikutnya, waktu itu lagi-lagi Joni mengikuti jesi, namun jesi selalu menghindar. Agak lama kemudian tiba-tiba Joni mendekati Jini, dan akhirnya terjadilah perkawinan antara Joni dengan Jini. Melihat hal itu, Jesi yang semula sudah berjalan dulu, langsung berbalik arah dan menarik ekor Jini yang sudah melepaskan diri dari joni, sambil berteriak-teriak. Kenapa si ibu ini?? dan yang terjadi berikutnya lebih aneh menurutku. Jesi menunggangi jinni, seperti layaknya perkawinan antara jantan dan betina, demikian terjadi sekitar tiga kali kelamin mereka saling menempel. Hah…monyetku mulai gila ini.

Akhirnya mengingat kejadian ini, aku jadi berfikir, apakah waktu itu jesi tengah mengandung javan dan tidak ingin berhubungan seks dengan joni untuk melindungi kandungannya? Ada gak sih mekanisme seperti itu? Tapi kok dilain hari, masih di pagi yang gelap, lagi-lagi Jini ditumpangi sesosok betina yang dicurigai adalah jesi?? Wallahu alam (biar terlihat sedikit heroik dan misterius).

Balik ke cerita pagi itu. Jefra dan javan mulai bergabung dengan teman-temannya yang mulai bergeran naik meteran, menuju ke pohon sibeumontei. Jalan mulai naik, dan di pagi hari itu kelenjar keringatku mulai berproduksi, sementara andanku masih dengan muka sedikit masam (kebiasaan di pagi hari) memimpin perjalananku. Yup, lagi-lagi sibulukbabaet. Tujuh langur pemalas ini mulai asik mencari dan menikmati buah bulat berwarna hijau seukuran bakso itu. Kalau sudah menemukan tempat makan, aku dan andanku bisa bersantai. Jam 09.00 adalah jam lapar kami. Mulailah kami makan part one. Apa menu pagi ini? Ikan asin disambal dan sayur sawi. Andaku mulai menggerutu, “tike…..Andan, Ikannya kayak karet, kayak sandal jepit andan, tikeiiii”.. Hehehe memang kadang kadang seperti itu, Ikannya terlalu kering sehingga sulit dikunyah. Atau kadang “sssshhhh tikeiiii ssshhhsss” yang ku terjemahkan, “Ikan teri masuk ke lubang gigi”. Tapi pas giliran kentang yang disambal mulai aku yang cerewet,, “Ndan, tukeran ya,, ne sarden buat kamu tapi kentangnya buat aku ya hehehehe”…ya demikianlah hari-hari menikmati makanan di hutan. Siraoma  kami memang pengertian, baru setelah kami selesai makan, perlahan-lahan mereka mulai berpindah. Kearah transek 21, melewati pohon pat-pat, turun bermain sebentar di pohon yang berdaun kecil-kecil (gak tau namanya). Empat ekor joja kembali terlibat kejar-kejaran, mengarah ke pohon sibabakbak yang lebat dengan liana. Dipohon itu nampak jojo si tatoga menggendong javan. Dibawanya javan berjalan menuju ke ujung cabang. Jefra mengikuti di belakang. Beberapa saat kemudian Jefra mengambil javan dari tangan Jojo kemudian melompat ke pohon kabitraba dan dusuk di cabang. Jesi nampak menyusul jefra kemudian mengambil Javan dan membawanya beristirahat di pangakal cabang yang terlindung daun. Yap, waktunya  keluarga Joja beristirahat siang, yang berarti aku harus siap-siap mengendalIkan rasa kantuk yang juga akan mendera. Kurang lebih pukul 14.oo keluraga ini mulai melanjutkan perjalanan. Turun meteran ke arah transek 21-3/100. Yap di bawah sana ada makan lezat menunggu. Pakatoktuk. Morfologi tumbuhan ini sangat mirim dengan durian. As seen bellow

Menyantap paktoktuk
Menyantap paktoktuk

Masing-masing langsung menuju buah yang sudah masak (kulit mulai pecah). Kemudian setelah mengobservasinya,  mereka berjuang membuka kulit pakatoktuk untuk mengambil bijinya. Setelah agak lama berjuang, akhirnya mereka berhasil menikmati buah tersebut. Joja-joja ini kan terus bergerak mencari makan hingga menjelang matahari terbenam. Saat waktu pengamataku berakhir, pukul 18.00 (kadang korupsi 15 menit) joja mulai menuju pohon tidur, dan berarti waktuku pulang

Malam hari di Camp Pungut

Setibanya di camp, menyapa dan bercanda bersama rekan-rekan guide dan ibu masak sudah menjadi kebiasaanku. Saling meledek sebentar sampai akhirnya Pak Tarsan mengusirku untuk mandi. Pak tarsan adalah asisten manager camp yang sudah kuanggap bapak di Pungut ini. Di kamar Joja Ika (asisten simakobu) sudah menunggu. ”Adus nandi Cah?”, sapa Ika khas dengan gaya Aremanya, “adek Betty tim malam”, sambungnya lagi. Akhirnya setelah berunding dengan analisa swot sederhana, aku dan Ika menuju ke sungai untuk mandi. Adek Betty adalah asisten bokkoi. Dia biasa berangkat pukul 9 pagi dan pulang sekitar jam 7 malam saat ikut tim malam. Jadi waktu kami mandi bareng paling cuma 2 hari dalam 5 hari kerja). Jalan menuju sungai sore itu becek dan kacau balau karena  serangan sainak (babi) semalam. Sampai di sungai sejenak kami merasakan dingginnya udara sore itu. Brrrrr…lagi-lagi bertarung melawan lalat babi. Adalah kamar mandi termewah yang pernah aku nikmati. Betapa tidak. Mandi dengan air jernih plus Ikan-Ikan kecil (sekalian fish therapy). River bed kerikil-kerikil kecil berpadu dengan lumpur halus (pijat refleksi). Bisa sekalian pengamatan kupu-kupu, burung, bahkan kadang ditunggui joja atau simakobu. Kurang keren apa coba? Kecuali agas, nyamuk, lalat babi, atau ular hwehehe. Selesai mandi, bersiap sholat maghrib bareng, ngaji sebentar dan meluncur ke uma.

Makan malam, nDai!!! Malam itu, malam sabtu yang berarti malam nonton bioskop Pungut. Buka tempat ibu masak biasa meletakkan makanan. Aseeeekkkk tineme ditemani kue Pungut. Wah ibu masak emang keren… aku ambil dua tineme di piring, plus kentang goreng. Oya ada buah juga, jeruk. Menikmati makan malam sambil bercanda dengan rekan-rekan guide. Bentar lagi Agung, manager camp akan mengadakan evaluasi kegiatan seminggu ini dan persiapan pulang ke Politcoman. Setelah briefing, kurang lebih setengah jam, bioskop Pungut siap tayang. Seperti biasa, film action, perang-perangan, atau komedi menjadi favorit. Satu film selesai, beberapa yang mulai mengantuk menuju ke peraduan sedangkan golongan lain masih ber haha-hihi sebentar, nah aku masuk dalam golongan itu. Di hari-hari biasa, setelah makan malam biasanya kita bermain-main dulu. Main kartu. Dan main song adalah permainan favorit. Dan dipermainan inilah lawan mainku akan puas mencoret wajahku dengan kopi atau masker, karena memang aku payah dalam permainan ini. Kalau tidak dengan mencoret wajah, punishment buat yang kalah harus dIkalungi binokuler (penyalahgunaan alatpenelitian J). Melalui permainan inilah kebersamaan kami terbangun. Dan akhirnya aku merasakan bahwa mereka adalah saudaraku. Entah bagaimanapun sifat, agama, perilaku, bahasa, perangai dan jailnya mereka… Saat salah satu sakit, yang lain pun mengobati (jIka bisa) atau menemani, atau minimal “menertawakan pasien”, dan yang ketiga itulah yang kulakukan saat andanku sakit, dan terpaksa sembuh karena harus ikut-ikutan tertawa. Tak jarang pula terjadi “intrik” dan asak baga, tapi toh akhirnya aku lulus juga kuliah di Pungut sehingga akhirnya menyandang gelar ALUMNI PUNGUT. Dengan berlinang air mata (lebay dikit) akhirnya  aku meninggalkan hutan ini.. thatha kaboi 9-10/450, 10/400, 11/600, tempat sinsoan, tepi sungai di 7/500. Thatha andankukuruskeringkerontang, bapakku di sorga (pak Luctcian), pak tarsan, tim Makobu dan Bokkoi, Ibu Masak, tim kontroling, my best friends Ika, Betty, agung, niku ++ (imah, kang Mas dho, Q-rok, arul), manajemen kolaborasi IPB-DPZ, Pak Susilo, etc lah…

Adalah satu hal yang terlalu amat sangat benar-benar saya syukuri bisa bertemu, mengenal, tertawa, belajar bermain dan hidup bersama keluarga ini.

Siraoma : Monyet

Joja : simagalai (Mentawai) = Presbytis potenziani

Simakobu : alaita (Mentawai) = Simias concolor/Nasalis concolor

Bokkoi : Bokkoi (mentawai) = Macaca siberuu

Sibabakbak  : Santiria sp.(Burseraceae)

Kaboi  : Pentace triptera (Tiliacea)

Sibulukbabaet   : Pometian pinnata (sapindaceae)

Pakatoktuk : Durio graveolans (Bombaceae)

Asak baga : Prasangka buruk

Tineme  : makanan khas setempat, terbuat dari gettek (sejenis talas) dicampur dengan pisang, disajikan bersama kelapa parut. Anggaplah “gethuk” ala Siberut

Kenapa aku ada di Pungut? aku bergabung dengan Siberut Conservation Programme sevagai asisten peneliti pada penelitian joja. Lokasi penelitian berada di Siberut Utara, Kepulauan Mentawai, yang disebut dengan Hutan Pungut. Sesuai kontrak aku meninggalkan jawa (kalau tidak salah) tanggak 10 April 2011 dan meninggalkan pulau pada akhir september 2011.

Tentang ibunda Javan, akhirnya setelah aku tiba di jawa, asisten penggantiku meyakinkan bahwa javan adalah anak jesi. Karena beberapa kali teramati jesi menyusui javan. Fiuff akhirnya

 

Cerita dari Siberut: Satu hari di Pulau Simasin

Posted on Updated on

Simasin: Kecil & cantik by Niku 2011

Akhirnya 1 hari sebelum memasuki bulan puasa Agustus 2011 lalu, aku dan teman-teman asisten di Camp Pungut berhasil juga mengunjungi Simasin. Sebuah pulau kecil yang indah. Hari itu sekitar pukul 10 waktu setempat aku serta tiga asisten lain diantar Pak parulian meluncur ke Simasin. Setelah satu jam perjalanan dengan speedboat mesin 25pk, akhirnya kami merapat ke pulau. Turunlah kami berlima dari speedboat. Kami masih harus berjuang memarkirkan speedboat memanfaatkan gelombang. Susah cuyyyyy…namun akhirnya berhasil juga meskipun sepertiga badan speedboat berisi air.

Setelah meletakkan bekal di tempat yang kami anggap aman, aku ditemani pak parulian langsung berjalan mengelilingi pulau. Dan ternyata, tidak sampai lima menit aku sudah kembali di titik awal hohohow. Sebuah pulau kecil, dengan pantai pasir putih. Kalau diperhatikan, pasir simasin ini bercampur dengan fragmen rumah hewan karang yang telah mati. Air laut tampak jernih dari dekat dan mengkombinasikan warna yang berbeda jika dilihat dari jauh. Paling tidak terlihat warna kehijauan, cokelat dan biru yang terpengaruh kondisi dasar. Untuk lebih jelasnya (berhubung sulit untuk mendeskripsikan), lihat hasil jepretan Niku (anggota ekspedisi Simasin) berikut ini …

warna air by Niku KGU 2011

Teman-teman mulai bersiap untuk untuk menikmati pesona laut Simasin dengan berenang. Sayang sekali aku gak bisa renang, akhirnya pakai pelampung, kecipak-kecipuk di tepi yang dangkal dan berjalan-jalan di pantai. Informasi dari teman-teman, snorkling di laut Pulau Simasin adalah hal yang jangan sampai dilewatkan ketika berkunjung di Pulau. Yap, menurut informasi juga, mereka bisa melihat berbagai macam ikan karang, dan aku hanya mendengarkan sambil meratapi kenapa aku gak berani menyusul mereka.

Ikan bakar By Niku 2011

Capek berenang, perut terasa lapar. Yup, Pak parulian telah menyiapkan ikan. Aku membatu beliau menyiapkan perapian, dan akhirnya…..ikan bakar siap disantap. Ohya, kami juga membawa bekal nasi dan lauk seadanya, buah (waktu itu sedang musim buah taiturgouk-gouk dan rambutan), serta jelly yang menjadi sangat segar dinikmati siang itu. kami makan dibawah naungan semak yang cukup tinggi dan menyerupai “natural biovac’.

Selesai makan, teman-teman kembali berenang, dan aku cukup senang membatu pak Parulian mengumpulkan karang-karang yang akan dimanfaatkan untuk membuat pondasi ataupun umpak. Jam empat sore akhirnya kami bersiap untuk meninggalkan pulau. sebelum langsung kembali ke Politcoman, kami mampir ke teluk sebelum (arah selatan) Kampung Labuan Bajau. Pada saat pasang, air setinggi kakiku, jadi aku bisa berjalan dengan leluasa. Sedangkan pada saat surut tempat ini adalah pantai pasir dengan sebuah muara sungai. Pak Parulian memilih untuk parkir di sisi yang agak dangkal (sepinggangku). Airnya jernih, sehingga dasar air terlihat. Dengan kondisi pakaian yang basah, agak malas rasanya turun dari speed boat. Namun karena rayuan sahabat-sahabat kreatifku ini, akhirnya aku pun turun ke air. Ternyata ketika berada di air terasa lebih hangat. Niku dengan ditemani Ika segera berenang, menuju ke perbatasan mangrove. Disana Niku melihat seekor ikan cantik berwarna biru. Sementara aku dan Betty hanya berjalan melihat-lihat tepian mangrove, ingin masuk ke hutan, tapi jadi berimajinasi bertemu dengan uar piton atau semacamnya, akhirnya sambil cekikikan kami kembali menuju ke speedboat. Nampak sebuah pompong menuju ke arah muara sungai. Ternyata tempat ini merupakan tempat favorit memancing. Beberapa cerita beredar mengenai keberadaan seekor ikan yang berukuran super besar, sepanjang pompong katanya. Ikan itu pertama kali terlihat pada saat sebuah kapal ikan bersama beberapa tim penyelam datang. Pada saat menyelam itulah mereka sempat melihat sosok ikan raksasa itu. Namun sampai sekarang belum pernah ada dokumentasi tentang ikan tersebut. Meskipun demikian, banyak yang membenarkan keberadaan ikan tersebut, terkait dengan keberadaan bagian air yang dalam, menyerupai palung di dekat muara. yah apapunlah…

Matahari mulai tenggelam. Kami pun berpamitan pada teluk Labuan Bajau. Pukul 18.30 akhirnya kami sampai di Betaet, lapar, tapi penuh kebahagiaan. Hari yang melelahkan namun menyenangkan. Big Thanks to : Gusti Allah atas anugerah berupa indera yang mampu menikmati keagungan alam ciptaan-Mu..thanks to : Pak Parulian, rekan-rekan asisten & body-mesin speedboat SCP.

Spesial buat Niku : aku pinjam fotomu hehehe

Cerita dari Siberut: Dia (Gracula religiosa) terkurung

Posted on Updated on

Selasa 27 September 2011 merupakan hari terakhirku di Politcoman, kampung terdekat dengan Hutan Pungut, tempat tinggalku selama lebih dari 170hari. Pagi itu aku bersiap di tepi Sungai Betaet, menunggu Pak Parulian menyiapkan speedboat yang akan kami pergunakan untuk menuju ke dermaga Pokai. Aku tidak sendiri, selain beberapa warga yang berkepentingan di Pokai, beberapa teman asisten dan juga guideku turut serta ke Pokai.

Selain kami para manusia, terdapatlah sebuah kardus yang menarik perhatianku. Sebenarnya yang menarik adalah makhluk bernyawa yang ada di dalam kurungan berukuran maksimal 50cmx50cmx50cm. Adalah 5 ekor burung beo yang dimuat dalam dua kurungan berlapis kardus. Entah apa yang memicu, saat-saat itu beberapa warga semangat 45 memasang perangkap saat berada di ladang, dengan menggunakan getah kabit (Artocarpus caryophylla). Tidak hanya lima ekor itu, masih ada satu kandang lagi yang dibawa oleh warga lain. Penasaran aku kemana mereka akan membawa burung-burung itu.

Setelah menempuh perjalanan laut selama kurang lebih 1,5 jam, sampailah aku di Pokai. Aku mengikuti kemana si bapak membawa burung itu. Akhirnya terlihat juga olehku sebuah rumah kayu yang tidak bisa dibilang “mewah” menurutku. Kulihat di emper rumah sudah ada beberapa kandang yang juga berisi burung yang sama, beo atau yang secara luas dikenal dengan tiong mas. Kemanakah selanjutnya burung ini akan dibawa? Sayang sekali si Bapak pembawa kandang tidak tahu secara rinci, yang jelas burung-burung itu akan dibawa ke mainland.

Tiong mas yang memiliki nama ilmiah Gracula religiosa, banyak tersebar di hutan Pungut. Memiliki suara yang khas “tiong-tiong” sering terlihat terbang berpasangan atau dalam kelompok kecil melintas camp. Menurut CITES Jenis burung ini merupakan salah satu jenis burung peliharaan paling populer di Asia, dikarenakan kemampuannya menirukan suara dan ucapan manusia. Aktivitas perdagangan dan habitat loss telah menurunkan populasi burung ini. Penurunan populasi yang signifikan sebagai dampak dari perdagangan tejadi di China, Indonesi, Peninsular Malaysia, Thailand, Philipina, serta bagian India dan Laos. Atas permintaan Thailand, burung ini masuk dalam CITES Appendix III pada tahun 1992 dan termasuk dalam Appendix II di tahun 1997 atas rekomendasi Netherlands dan Philippines. Sementara di Siberut, perdagangan burung ini baru marak di tahun belakangan ini.

Hari Sabtu, 7 Januari 2012 kemarin aku iseng ikut berkumpul dengan teman-teman FKT UGM. Di forum itu aku menceritakan tentang nasib tiong mas di Siberut utara. Dan pak Ige waktu itu bercerita bahwa ternyata perdagangan tiong mas marak sewaktu Mentawai dilanda tsunami beberapa tahun lalu. Kejadian bermula saat seorang relawan berkebangsaan Quwait atau mana sedikit lupa, takjub melihat seekor burung yang bisa mengucapkan “Assalamu’alaikum”, dari situlah entah apa yang terjadi berikutnya, maraklah perdagangan tiong mas dari Pulau siberut ini.

Entah benar entah tidak bahwa itulah yang memicu perdagangan tapi sepertinya benar, saat ini populasi tiong mas terancam aktivitas perburuan yang tidak bertanggung jawab. Dan aku pikir kita tidak bisa seenaknya menyalahkan warga yang menangkap burung itu. Siapa yang tidak tergiur, satu ekor tiong mas yang bulunya belum lengkap saja sudah dihargai Rp.200.000,- dan menjadi Rp.250.000,- ketika bulunya sudah lengkap (menurut salah satu warga yang membeli burung dari warga lain). Apalagi kalau sudah bisa ‘ngomong”, harganya konon mencapai jutaan. Dengan warga yang sumber penghidupan utamanya bertani, harga yang ditawarkan untuk satu ekor burung beo sangatlah menarik. Jadi kalau permintaan masih ada, maka warga tetap akan berusaha menangkap si beo.

Apa yang bisa kita lakukan? Aku pernah berdiskusi dengan kawanku yang juga menangkap burung. Dan entah kenapa, aku tidak bisa menyalahkan dia yang ingin memelihara burung beo, tidak untuk dijual. Karena seakan-akan budaya memelihara burung sudah ada sejak jaman dulu, dari generasi sebelumnya. Meskipun aku tetap berkata “burung lebih indah di alam, biarkan burung terbang bebas”. Teringat pertanyaan dan pernyataan dari seorang kakak, bahwa kita selama ini telah termakan doktrin konservasi, “dilarang memelihara, dilarang berburu” dlsb. Entah termakan doktrin itu atau apa, tapi memang lebih berperikehewanan jika satwa tetap dilingkungannya. Dilain pihak tidak semua orang memiliki pemahaman tersebut. Suka ya pelihara. Menyikapi orang yang demikian agak sulit memang. Karena biasanya orang kalo sudah suka tidak peduli entah itu satwa dilindungi atau hampir punah, bahkan suatu kebanggan memiliki satwa yang demikian, ya tetap aja sikat, ambil, beli. Pada akhirnya hal itu akan bermuara pada naiknya perdagangan satwa. Adanya aturan perundangan tentang perlindungan satwa/tumbuhan nampaknya belum terlalu berdampak. Nyatanya yang terjadi di Siberut, warga tahu kalau satwa itu dilindungi, tapi mereka merasa aman, karena memang nanti aka nada ‘orang” yang menanganinya. Entah kapan waktunya jika masih tetap seperti ini bukan hil yang mustahal tiong mas akan punah di alam.Toh kepunahan itu pasti akan terjadi.

Ada satu kalimat menarik yang diungkapkan narasumber pada pertemuan 7 Januari lalu. “apa kesamaan kepentingan antara pemburu dan konservasionis?”,, mereka sama-sama ingin populasi suatu satwa tetap bertahan dan bahkan meningkat. Sangat logis, jika populasi di alam habis, maka pemburu akan kehilangan sumber penghasilan mereka. Lalu kenapa selama ini kita (atau mungkin lebih tepatnya saya) selalu menempatkan bahwa pemburu adalah musuh? Kenapa kita tidak saling bekerjasama? Misalnya sustainable harvest. Salah satu dosenku dulu menjelaskan bahwa sustainable harvest merupakan salah satu cara untuk mempertahankan populasi dengan menawarkan win-win solution kepada pemburu. Ini juga merupakan aplikasi salah satu dari tiga pilar uutama konservasi, use wisely. Atau mungkin dengan penangkaran. Namun selama ini belum banyak yang melirik ke usaha konservasi ini, atau mungkin aku saja yang tidak mengikuti perkembangan…Jadi kesimpulannya,, kita harus terus belajar dan belajar, dan lebih terbuka pada hal-hal baru di luar kita.

**ditulis saat bingung dalam suasana yang tidak mendukung :p **

Keep moving forward!!!

Cerita dari Siberut: Ceyx rufidorsa, si kecil yang cantik dan gesit

Posted on Updated on

ceyx rufidorsaBerhubung kurang menguasai dunia perburungan, InsyaAllah adalah Ceyx rufidorsa atau yang dikenal dengan Udang Punggung-merah.

Burung kecil berwarna kemerahan ini sangat umum di temui di hutan Pungut, tanah Pulau Siberut. Bahkan di sekitar uma (camp  stasiun riset SCP) yang biasanya ramai di sore hari, burung ini bertengger santai dengan gaya khasnya “manggut-manggut” di tangkai daun pepaya, tepi Sungai Pungut. Udang Punggung-merah berukuran 14 cm, dicirikan dengan tubuh bagian bawah berwarna kuning, tubuh bagian atas merah karat tua, dengan pantulan ungu dan setrip ungu pada punggung sampai ke bawah mencapai penutup ekor atas. Pada saat terbang dia mengeluarkan siulan mencicit bernada tinggi.  Foto ini kuambil sesaat setelah aku beristirahat usai mengikuti jojaku yang ribut karena melihat seekor ular piton, dan burung cantik ini mampu memberikanku ketenangan setelah kengerian. Berjarak sekitar lima meter dariku, burung ini tetap tenang saat aku berjingkat membidiknya.

Taksonomi :

Kingdom               : Animalia

Phylum                  : Chordata

Class                    : Aves

Order                    : Coraciiformes

Family                   : Alcedinidae

Cientific name        : Ceyx rufidorsa

Species Authority  : Strickland, 1847

Common Name/s  :

English       : Rufous-backed Kingfisher

Indonesia    : Udang Punggung-merah

Menurut www.iucnredlist.org termasuk dalam kategori least concern, yang saat ini keberadaannya tidak terancam bahaya kepunahan, meskipun populasinya mengalami penurunan. Burung ini terdistribusi luas, di Brunei Darussalam; Malaysia; Philippines; Thailand dan tentu saja di Indonesia. Di Indonesia burung ini tersebar luas di Sumatera, Pulau lepas pantai Sumatera Barat,  Jawa, Kalimantan, dan Bali. Oiya, foto ini aku peroleh di Siberut utara yang termasuk dalam kepulauan Mentawai, masih bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

keterangan lebih lanjut baca : www.iucnredlist.org & kitab LIPI-seri panduan lapangan Burung-burung di Sumatera, Jawa, Bali dan kalimantan.

by Lopedesignresearch…

Posted on Updated on

Gunung Pasir di Ngablak

Dua gambar diri yang kusuka hehe..

Gambar pertama diambil oleh tengkleng 1, saat pemetaan lokasi yang akan direstorasi di Desa Ngablak, Kecamatan Srumbung, bersama tim Infront. Tepatnya di satu tempat yang lazim disebut “gunung pasir”. Menurut cerita warga sekitar, gunung pasir ini merupakan hasil erupsi tahun 60’an yang mematikan aliran Sungai Batang, sehingga warga Desa Ngablak bisa bermukim dengan tenang tanpa ancaman banjir lahar dari Sungai Batang. Menurut penuturan warga pula, dulunya gunung pasir ini “hijau” dengan berbagai macam tumbuhan. Namun sekarang yang tersisa hanyalah beberapa tegakan pinus (ex Perhutani) dan cukup banyak batang pinus yang tumbang. Tidak lain tidak bukan, ini adalah ulah para penambang pasir yang kini menyisakan tumbukan batu sisa menambang yang umum disebut “blantak”.

Tempat saya berdiri adalah di sebuah jalan di tengah gunung pasir,, yang di kanan kirinya nampak batu-batu tertata rapi, dan yang pasti lebih tinggi dari pada saya, sehingga “jalan” menyerupai kanal-kanal. Diatas kepala saya nampak batang pinus yang tumbang, melintang di atas jalan. Sepertinya fotografer kali ini ingin menunjukkan berapa tinggi badan saya.

Foto berikutnya diambil setelah dam keempat Sungai Batang, sebelum mencapai gunung pasir. Air hujan membawa endapan lumpur tipis menutup lahan berpasir ini. Nampak lahan yang kosong (hanya dihuni oleh beberapa semak dan rumput). Jejak kaki saya yang nampak jelas, plus bayangan tubuh saat melintas di hamparan pasir ini membuat saya sangat menyukai foto ini (thanks to fotografer yang akhirnya mau mengambil gambar ini hehehow)

Dan akhirnya,, dengan sentuhan seseorang akhirnya jadilah gambar diatas…

Photo by : Triandi Sukma
Edited by : Ropik

Cahaya dalam gua..

Posted on Updated on

Kehidupan di Dalam Kegelapan Goa

Dua cahaya menembus kegelapan gua

Adalah satu gambar yang kusuka dari sekian banyak dokumentasi kegiatan eksplorasi biota gua dalam kegiatan Matalabiogama Mernoreh Programme 2007. Salah satu kegiatan yang ditujukan untuk menguak potensi keragaman hayati di kawasan karst Pegunungan Menoreh.
Sekedar deskripsi foto :

  • Lokasi, kalo gak salah di Gua Anjani, Kecamatan Kaligesing, Kab. Purworejo
  • Apa yang dilakukan, saat itu aku bersama Uyul, mengukur faktor fisik lingkungan, yaitu kelembaban, temperatur dan pH tanah, serta kelembaban dan temperatur udara. Mengapa? hal ini dikaitkan dengan habitat yang disukai oleh arthropoda tanah di lantai gua, salah satu tema kajian kami pada waktu itu. Secara umum, soil fauna tersebut lebih menyukai tanah yang lembab. Untuk lebih lengkapnya tentang fauna gua, silahkan baca di salah satu rekan yang intens mempelajari ekosistem gua, laba-laba dan karst.

LangitSore….

Posted on Updated on

LangitSore & ketenangan yang disajikan... a part of Menoreh

Selalu terkagum-kagum pada langit sore yang cerah… Dari warna yang dilukiskan, bentuk awan yang diciptakan, dan ketenangan yang disajikan.. Sama seperti suatu sore kala itu, saat aku menyusuri jalan menuju kampungku, saat Canon Powershoot S3is masih bersamaku, maciget dan siwimilk.. Subhanallah..
Langitsore Waduk Sermo, a part of Menoreh..

Positioning….Where am I??

Posted on Updated on

Angin dan Rumput....

Tentang Simpai berkalung

Posted on Updated on

Kules, 28 Maret 2016.

Entah berapa ratus hari aku menelantarkan halaman ini. Maka pada sore ini, dengan diiringi hujan kutulis juga sebuah rekaman ingatan. Sebagai sebuah pengingat akan suatu pengalaman yang kuperoleh di kaki Gunungapi Kerinci. Sebuah Nagari (desa) yang bernama Lubuk Gadang Timur di Kabupaten Solok Selatan. Sebuah Nagari di ketinggian ±600 mdpl, yang cantik berhias tanaman bunga di setiap halaman rumah dan hampir di sepanjang jalan kampung.

Tentang Simpai Berkalung

Lubuk Gadang Timur, 13 Maret 2016.

Pagi itu, sinar matahari mulai menghangatkan tanah yang basah oleh hujan semalam ketika seorang teman (atau mungkin sebut saja kakak seperguruan) mengajak untuk berjalan-jalan di sungai belakang rumah. Sesama alumni Fakultas Biologi yang namanya sering disebut oleh ibu dosen tercinta di kelas Ekologi. Baiklah, sebut saja dia mas Burhan. Beliau mendalami dunia Herpetofauna. Tapi pagi ini, herpetofauna bukanlah target utama kami (fiufffff syukurlah J).

Di belakang rumah yang kami (5 manusia) kontrak selama sepuluh hari, terdapat sebuah sungai yang berhulu di Gunungapi Kerinci. Sungai Taluak Putiah, demikian warga setempat menamainya karena airnya yang bersih dan jernih. Sungai ini pada akhirnya akan bersatu dengan sungai Batang Sangir dan pada akhirnya bersatu dengan Sungai Batang Hari.

Kami berjalan menyusuri jalan yang biasanya dilalui truk pengangkut batu. Ya, sebuah CV menambang batu kali di sungai tersebut. Nampak oleh kami batu-batu menumpuk di pinggir sungai. Bekas tambang menyisakan kolam-kolam di badan sungai, yang sering dimanfaatkan oleh anak-anak untuk berenang.

Belum lama kami berdiri, tiba-tiba terdengar suara berisik. Rasanya aku tidak asing dengan suara tersebut. Kemudian muncullah sekelompok Macaca fasicularis. Mungkin mereka ini yang kemarin pagi mengambil buah manggis di belakang rumah. Nampaknya terdapat beberapa indivu muda dalam kelompok itu. Individu yang masih anak-anak itu bermain berkejar-kejaran di dahan pohon kayu manis sambil mengeluarkan suara yang ribut.Sementara itu, individu remaja nampak duduk dengan tenang di pohon yang sama.

cekrek cekrek cekrek. Akupun berfoto ria sambil menunggu kelebatan burung yang dari tadi hanya terdengar suaranya. Dan sayangnya, yang tertangkap inderaku hanya burung cabai bunga api saja. Ada juga suara burung pelanduk namun aku tidak berani memastikannya sebagai jenis pelanduk tertentu. Ya,,,karena rendahnya jam terbangku dalam pengamatan burung. Mataku terus mencari-cari sekeliling. Pinggir sungai ini masih menyisakan penutupan lahan berupa hutan. Namun lepas dari lereng yang curam di kanan-kiri sungai, nampak adanya bangunan sederhana dari kayu yang merupakan rumah ladang. Tidak jauh dari sungai memang terlihat ladang jagung milik warga, yang diselingi pohon pinang dan kayu manis. Pertanian merupakan sumber utama penghasilan warga di Lubuk Gadang Timur.

Habitat simpai
Habitat Simpai di tepi Sungai Taluak Putiah

Tiba-tiba mataku menangkap gerakan pohon yang “tidak wajar”, agak jauh di seberang sungai. Dengan sedikit lebay, aku berdebar-debar berharap bahwa gerakan itu dibuat oleh simpai atau siamang yang suaranya sempat terdengar olehku pada suatu pagi. Segera kupinjam binocular dari mas Burhan. Dan akhirnya mereka menampakkan diri. Adalah beberapa ekor simpai tengah berpindah dari pohon kayu manis ke pohon aro.  Agak lama mereka beraktivitas di pohon aro. Mereka dengan warna kemerahan dan ekor yang panjang menjuntai. Beberapa ekor terlihat mengambil sesuatu kemudian memasukkannya ke mulut. Namun karena jarak yang cukup jauh, tidak jelas apa yang mereka makan.

Eitssssss ada sesuatu yang aneh. Seekor simpai (lingkaran merah) terlihat seperti mengenakan kalung. Tapi apa mungkin itu kalung? Kuaarahkan lensa SX30is ke arah mereka, berharap dapat menjangkaunya. Ketika kucoba lihat lagi melalui layar kamera, tetap saja bagiku itu adalah sebuah kalung di lehernya. Kalung di leher seekor simpai di alam bebas, dan dia hidup dalam kelompok. Yang ada dalam pikiranku, jika dia dulunya merupakan peliharaan warga yang kemudian entah terlepas atau dilepaskan, maka betapa hebatnya dia untuk bisa mendapatkan sebuah kelompok. Namun entahlah…tidak ada informasi pasti mengenai siamang itu.

Simpai
Kelompok Simpai di tepi Sungai Taluak Putiah. Didalam lingkaran merah adalah simpai yang nampak “berkalung”

Sebagai catatan, dari hasil “tanya-tanya” tidak ada catatan konflik antara warga setempat dengan jenis primata itu. Juga tidak ada informasi perburuan dengan simpai sebagai saran utama. Ancaman yang terlihat bagi keberadaan simpai dan juga primata lain di kawasan ini terutama adalah kehilangan habitat. Semakin bertambahnya populasi manusia, maka kebutuhan akan lahan baik untuk permukiman maupun lahan pertanian juga meningkat. Mungkin terkesan klasik. Dan kemungkinan juga terlalu dini mengatakan hal itu. Informasi dari masyarakat, meskipun kini sulit ditemui, di hutan sekitar lingkungan mereka masih ada simpai (Presbytis melalophos), karo (Macaca fasicularis), beruk (Macaca nemestrina), siamang atau yang mereka sebut mbok-mbok, ungko dan juga kukang. Sayangnya, aku tidak berkesempatan menjumpai mereka.

Ah ceritaku jadi ngelantur kesana-kemari. Singkat cerita, karena lama menunggu kelompok simpai untuk mendekat, namun bahkan mereka tidak berpindah pohon, akhirnya aku dan mas Burhan pun pulang dengan tangan setengah hampa.